Menggandeng Generasi Z: Sukses Aksi Serentak "Friday Glow Up" Puskesmas Sepanjangjaya di Sekolah-Sekolah Wilayah Kerja

Kegiatan
Juli 16, 2026 Moh. Ilham Darmawan
Menggandeng Generasi Z: Sukses Aksi Serentak "Friday Glow Up" Puskesmas Sepanjangjaya di Sekolah-Sekolah Wilayah Kerja

Latar Belakang: Menatap Ancaman Tersembunyi pada Remaja Putri

Masalah kesehatan masyarakat tidak pernah benar-benar sederhana. Di balik keceriaan wajah remaja putri usia sekolah menengah (SMP dan SMA) di wilayah kerja Puskesmas Sepanjangjaya, tersimpan sebuah tantangan klinis yang memerlukan perhatian serius: Anemia Defisiensi Besi. Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri masih tergolong tinggi. Kondisi ini bukan sekadar urusan wajah pucat atau rasa lemas biasa; anemia pada usia pertumbuhan berisiko menurunkan konsentrasi belajar, menurunkan imunitas tubuh, hingga dalam jangka panjang berdampak pada risiko kesehatan saat mereka kelak menjadi ibu.

Menyadari urgensi tersebut, Puskesmas Sepanjangjaya meluncurkan sebuah inovasi program preventif terintegrasi bertajuk "Friday Glow Up". Program ini bukan sekadar pembagian suplemen massal biasa, melainkan sebuah gerakan kultural yang mengemas kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi sebuah tren gaya hidup sehat yang menyenangkan bagi Generasi Z.

Pelaksanaan Kegiatan di Lapangan

Sepanjang bulan ini, tim promosi kesehatan (Promkes) bersama unit pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) Puskesmas Sepanjangjaya bergerak secara serentak mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah Kelurahan Sepanjangjaya. Salah satu titik utama pelaksanaan adalah di beberapa SMP dan SMA negeri maupun swasta setempat.

Setiap hari Jumat pagi, suasana sekolah yang biasanya diawali dengan literasi atau senam bersama, kini ditambahkan dengan ritual sehat "Friday Glow Up". Kegiatan diawali dengan edukasi singkat interaktif mengenai pentingnya zat besi bagi tubuh remaja. Tim Puskesmas memaparkan materi dengan pendekatan kekinian—menjelaskan bahwa kata "Glow Up" tidak hanya datang dari produk perawatan kulit luar (skincare), melainkan dari sirkulasi hemoglobin ($Hb$) yang optimal di dalam darah. Hemoglobin yang cukup memastikan oksigen terdistribusi dengan baik ke seluruh tubuh, membuat wajah tampak segar alami (tidak pucat), rambut kuat, dan konsentrasi belajar tetap tajam.

Setelah sesi edukasi, seluruh remaja putri di sekolah tersebut bersama-sama meminum satu Tablet Tambah Darah yang telah didistribusikan sebelumnya. Untuk meminimalkan efek samping mual yang kadang muncul, para siswi disarankan meminumnya setelah sarapan pagi atau bersama dengan buah yang kaya vitamin C.

Digitalisasi Pemantauan: Lembar Kendali Elektronik

Salah satu tantangan terbesar dari program TTD di tahun-tahun sebelumnya adalah rendahnya kepatuhan (compliance rate) akibat siswi yang lupa atau sengaja tidak meminum suplemen karena rasa besi yang kurang nyaman. Puskesmas Sepanjangjaya memecahkan masalah ini dengan memanfaatkan teknologi digital.

Setiap siswi diberikan akses ke platform mandiri Friday Glow Up Digital. Melalui halaman ini, setiap remaja putri diwajibkan melakukan pelaporan mandiri setiap pekan. Mereka cukup memasukkan Nama, NIK untuk validasi, Asal Sekolah, Kelas, dan mencentang status kepatuhan minum obat dari Pekan 1 hingga Pekan 4 pada bulan berjalan. Sistem ini juga dilengkapi dengan proteksi cookie dan validasi basis data terintegrasi guna memastikan data yang dilaporkan akurat, tidak duplikat, dan bebas dari spam.

Hasil Akhir dan Rencana Ke Depan

Dari evaluasi kegiatan bulan ini, tercatat peningkatan grafik kepatuhan konsumsi TTD yang signifikan, mencapai lebih dari 85% dari total populasi sasaran remaja putri di sekolah-sekolah yang dikunjungi. Pihak sekolah, mulai dari kepala sekolah hingga guru UKS, memberikan apresiasi yang luar biasa karena program ini dibungkus dengan cara yang relevan dengan dunia remaja hari ini.

Puskesmas Sepanjangjaya berkomitmen untuk terus mengawal kegiatan "Friday Glow Up" ini secara konsisten sepanjang tahun. Harapan besarnya, melalui kolaborasi aktif antara institusi kesehatan, pihak sekolah, dan kesadaran digital dari para siswi, kita dapat melahirkan generasi muda wanita yang sehat, cerdas, berenergi, dan terbebas dari belenggu anemia.

Frequently Asked Questions

A: Ya, Puskesmas melayani peserta BPJS Kesehatan khusus untuk berobat jalan. Bagi pemegang KTP Kota Bekasi, layanan ini gratis. Sementara itu, bagi pasien dengan KTP luar Kota Bekasi, dikenakan biaya retribusi sebesar Rp25.000 (belum termasuk biaya penunjang medis lainnya).

A: Ya, pasien dapat mendaftar secara online melalui situs resmi Puskesmas Sepanjangjaya di puskesmassepanjangjaya.com. Namun, pendaftaran online untuk pasien BPJS belum tersedia karena masih dalam tahap persiapan kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

A: Konsultasi kesehatan gigi, penambalan, pencabutan, dan pembersihan karang gigi.

A: Untuk saat ini, rujukan spesialis hanya berlaku bagi pasien umum (berbayar). Puskesmas belum bekerja sama dengan BPJS, sehingga memiliki keterbatasan untuk mengeluarkan rujukan spesialis menggunakan BPJS.

A: Bisa, setiap hari kerja.

A: Setiap hari Senin sampai Kamis.

A: Setiap hari Rabu.

A: Ya, Puskesmas Sepanjangjaya melayani pembuatan Surat Keterangan Tidak Buta Warna.

A: Setiap hari Kamis.

A: Hipertensi, diabetes melitus, asam urat, dan kolesterol, yang didasarkan pada diagnosis dokter umum lalu dirujuk secara internal ke pelayanan kesehatan tradisional.

A: Setiap hari Selasa dan Rabu mulai pukul 07.30 hingga 10.30 WIB (untuk waktu pendaftaran).

A: Layanan imunisasi di puskesmas tidak dipungut biaya (gratis) dengan syarat membawa identitas diri (NIK Kota Bekasi) dan Buku KIA.

A: Wajib membawa Buku KIA. Berdasarkan peraturan daerah, akan dikenakan tarif retribusi sebesar Rp25.000 untuk pasien dengan KK luar Kota Bekasi.

A: Bisa. Bagi bayi yang belum mempunyai identitas resmi, pendaftaran dapat menggunakan tanggal lahir bayi, dengan syarat orang tua tetap membawa KTP atau Kartu Keluarga Kota Bekasi. Sambil menunggu proses pembuatan identitas anak selesai, imunisasi dapat dilakukan di puskesmas maupun posyandu.

A: Tes IVA sangat disarankan bagi setiap wanita yang sudah menikah atau aktif secara seksual, terutama yang berusia antara 30 hingga 50 tahun.

A: Pastikan tidak sedang hamil, tidak sedang menstruasi/haid, dan tidak melakukan hubungan intim setidaknya 24 jam sebelum jadwal pemeriksaan.

A: Prosedur tes IVA umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, hanya akan terasa sedikit tidak nyaman atau kram ringan saat alat spekulum (cocor bebek) dipasang dan cairan dioleskan.

A: Belum tentu. Hasil positif berarti ditemukan bercak putih saat dioleskan asam asetat, yang mengindikasikan adanya lesi pra-kanker. Ini adalah peringatan dini agar sel abnormal tersebut segera ditangani sebelum berkembang menjadi kanker. Biasanya dokter atau bidan akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan seperti Pap Smear, Tes DNA HPV, atau kolposkopi.

A: Tes-tes tersebut sama-sama merupakan metode skrining lini pertama. Tes IVA memberikan hasil yang lebih cepat (dapat diketahui dalam 2–5 menit), sedangkan sampel Pap Smear harus dikirim terlebih dahulu ke laboratorium.

A: Tidak. Tes ini hanya menunjukkan kondisi leher rahim pada saat pemeriksaan dilakukan. Hasil IVA negatif berarti leher rahim tampak normal, licin, dan berwarna merah muda tanpa tanda lesi pra-kanker. Anda tetap disarankan untuk melakukan tes ulang secara berkala setiap 3–5 tahun sekali.

A: Bila pasien mendapatkan obat antibiotik wajib dihabiskan untuk mencegah resistensi bakteri, meski kondisi tubuh membaik. Bila bukan antibiotik di minum jika masih terdapat keluhan

A: Obat penurun darah tinggi wajib diminum secara rutin pada waktu yang sama (idealnya dalam keadaan perut kosong) agar kadar obat di dalam darah selalu stabil. Ketepatan waktu ini memastikan tekanan darah tetap terkontrol sepanjang hari, mencegah lonjakan mendadak, serta menghindari risiko fatal seperti stroke dan serangan jantung akibat fluktuasi tekanan darah.